Anak yang Dewasa Sebelum Waktunya

Masa anak-anak begitu indah dan berharga untuk dilewati, sayang, banyak anak yang direnggut dari kisah indah ini‚Äč

Anak yang Dewasa Sebelum Waktunya

Why can’t we be, like strory book children, running through the rain, hand in hand, across the meadows (mengapa tidak bisa lagi seperti buku cerita anak-anak, lari menembus hujan, bergandengan tangan melintasi hamparan padang rumput)…” lagu Sandra & Andres ini mengingatkan betapa berharganya masa kanak-kanak, sehingga sebagian orang berasa sayang jika waktu indah itu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba mereka berubah menjadi dewasa. Kalau bisa, mereka ingin menjadi Peter Pan yang berpetualang selamanya di dunia anak.

Namun betapa mirisnya ketika kita melihat ajang pencarian bakat di tv, dengan anak-anak berdandan ala dewasa sering menyanyikan lagu cinta. Berapa banyak anak kecil yang mengendarai mobil dan motor, Alhasih, terjadi kecelakaan yang menelan banyak korban, salah satunya adalah putra dari artis terkenal.

Mengapa saat ini banyak anak instan, yakni dipegas untuk cepat dewasa ? Menurut pakar pendidikan Dr. Dewi Utama Faizah, anak instan tidak sunatullah. Seharusnya anak berkembang melalui proses tumbuh kembang secara sempurna. Yaitu masa bayi, masa balita, masa anak-anak, remaja, dan dewasa. Sayangnya, kecenderungan orang tua menjadikan anaknya “be special” dari pada “be average or normal” semakin marak. Orang tua sangat ingin anak-anaknya “to excel to be the best”. Anak-anak di gegas mengikuti aneka kursus : mental aritmatika, sempoa, renang, basket, balet, tari, piano, biola, melukis, dan lainnya.

Maka lahirnya anak-anak superkids. Superkids berorientasi kepada “competend child”. Orang tua percaya “earlier is better”. Semakin cepat dan dini dalam menginvestasikan beragam ilmu pengetahuan ke dalam diri anak, akan semakin baik. Namun, sosiolog Amerika, Neil Posman pada tahun 80-an, meramalkan jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan !.

Ironi, ujar pemilik TK pedesaan kampung Rama Rama di Cibubur ini, coba mamaparkan tragedi tentang William James Sidis, seorang anak pintar instan dari tahun 1930, seperti yang di muat New Yorker. Kecerdasan dalam matematika membuat anak ini masuk Harvard College walau usianya masih 11 tahun. Sayang, anak ini pada suatu hari ditemukan sebagai pemulung mobil tua. Kasus “bintang cilik” dunia, Heintje, yang teramat indah menyanyikan “Mama”, setelah dewasa malah langganan menjadi pasien dokter jiwa.

“Saat ini banyak orang tua instan yang merupakan produk dari didikan orang tuanya, coba mengulang kembali pola pengasuhan yang sama terhadap anaknya, sehingga melahirkan anak instan yang serba cepat perkembangannya yang tidak sesuai usianya. Padahal, bayipun harus makan bubur, tidak diberi porsi atau makanan orang dewas”, ungkap kepala seksi penilaian Akreditas Direktorat Pendidikan TK dan SD, Ditjen Dikdasmen Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter ini.

Tanpa mengetepikan akan-anak ajaib yang memang harus diberlakukan sesuai dengan daya intelektual maupun fasilitas pendidikan agar orangtua menjaga, mendidik, merawat anak-anak sesuai tahapan perkembangan jiwanya. Di tengah banjir informasi tentang pola pengasuhan ini, mengakses dan memilih model parenting yang tepat bertanggung jawab menjadi solusi jitu agar buah hati tumbuh menjadi pribadi yang utuh, matang, dan sempurna.

GAYA PENGASUHAN (Parenting Style)

Gaya Mengasuh Anak - Parenting StyleKondisi ketidakpatutan dalam memerlakukan anak ini telah melahirkan berbagai kesalahan dalam gaya pengasuhan, Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya pengasuhan ini, antara lain :

1. Gourmet Parents (Ortu Kaya)

Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses, memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat eksotis di dunia, dengan gaya hidub kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua, mereka cenderung merawat anak-anak seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Para Ortu kaya ini sangat percaya apabila mengasuh anak yang baik sama seperti halnya membangun karier.

2. College Degree Parents (Ortu Intelek)

Kelompok ini merupakan model keluarga yang intelek. Mereka sangat peduli dengan pendidikan, sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sekolah anaknya. Misalnya, membantu anaknya membuat majalah dinding dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Terkadang mereka memasukan anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga dibayar dengan harga yang pantas. Kelebihan dari keluarga yang intelek ini adalah mereka sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak-anaknya. Mereka juga biasanya akan membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

3. Gold Medal Parents (Ortu Selebritas)

Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anak menjadi kompetitor dalam berbgai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi, seperti olimpiade sains, seni, kontes, menari, menyanyi yang akhir-akhir ini sedang marak. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi “bintang”.

4. Do-it Yourself Parents

Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi aktivis di bidang sosial di sekolah, di tempat ibadah, posyandu, dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan ankanya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal, yang sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu, kelompok ini juga bermimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” — “earlier is better”. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

5. Outward Bound Parents (Ortu Paranoid)

Orangtua ini memprioritaskan pendidikan yang memberikan kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anak. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga, mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Seperti halnya Do it yourself Parents, kelompok ini secara tidak disengaja terkadang terpengaruh dan menerima konsep “Superkids”. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya di olahraga “karate, yudo, pencaksilat, dst”. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini, mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah mereka, serhingga anak-anak mereka menjadi steril terhadap lingkungannya.

6. Prodigy Parents (Ortu Instan)

Merupakan kelompok orangua yang sukses karier namun berlatar pendidikan yang minim. Mereka memandang kesuksesan didunia bisnis sebagai bakat semata. Sekolah hanya dipandang sebelah mata. Mereka memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Sehingat sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instan dalam mendidik anak sangat mereka sukai, misalnya “kiat-kiat mengajarkan bayi membaca” karangan Glenn Doman, atau “Kiat-kiat mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu Pemikiran Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-kiat Mengajarkan Anak dapat Membaca dalam Waktu 6 Hari” karangan Sidney Ledson.

7. Encounter Group Parents (Ortu Ngerumpi)

Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki perkerjaan tetap. Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka sangat menyukai dan mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya, kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku “gang ngerumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Atau, jika memiliki aktivitas di kelompoknya, lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah. Menjadikan anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun, banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minan dan prestasi yang diharapkan.

8. Milk and Cookies Parents (Ortu Ideal)

Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanan yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anaknya dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation” dalam merawat dan mengasuh anak. Mereka memenuhi rumah tangga dengan buku-buku, lukisan, dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka-pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah.

 

REFERENSI

^ Novita W. Paras. 2013. No 122 / Tahun XI / Desember (p. 62-63)
^ Elkind. 1989.
^ Sunday_KNIGHT Thread Idws Forum
^ dan berbagai sumber lainnya

MARI DISKUSI

Please enter your comment!
Please enter your name here