Tips Membentuk Anak Rendah Hati

Tips Cara Membentuk Anak yang Rendah Hati

Tips Membentuk Anak Rendah Hati

Sebagai orang tua, sulit melepaskan diri dari keinginan menghujani anak dengan pujian. Coba lirik deretan rak di toko buku, pasti Anda akan banyak menemukan buku panduan menumbuhkan rasa percaya diri anak, dan jarang sekali buku yang memberikan kiat seputar menanamkan kerendahan hati pada anak. Apa salahnya menjadikan anak merasa bangga atas diri sendiri? “Yang jadi masalah adalah hal itu mudah sekali kelewat batas,” kata Diane Ehrensaft, PhD, penulis Spoiling Childhood: How Well-Meaning Parents Are Giving Children Too Much – But Not What They Need.

Jika Anda terus-menerus memuji kehebatan anak Anda, dia akan melihat kemampuannya sebagai hal yang sangat fantastis, sekaligus menanamkan egoisme yang membuat dia tidak peka terhadap perasaan orang lain (dan tidak disukai, tentu saja).

Tapi belum terlambat untuk melepaskan diri Anda dari “jebakan memuji” yang biasanya dialami para orang tua. Untuk mengendalikan arogansi anak, ajari dia untuk menghargai kemampuan atau pekerjaan orang lain– dan menerima keterbatasannya sendiri. Menanamkan kerendahan hati sejak dini akan memudahkan anak dalam pergaulan dan membuat ia menghargai kerja tim. Dan dengan mengurangi intensitas pujian, Anda telah membantu –bukan menyakiti– dia untuk jangka panjang. “Anak yang tahu persis kemampuannya bisa lebih baik dalam mengatasi tantangan yang akan mereka hadapi di sekolah dan sepanjang hidup,” kata Robin Goodman, PhD, psikolog klinis dari New York.

“Lihat Aku!”

Ketika anak 2 tahun Anda mengangkat Sebuah kotak mainan dan berkata, “Mama atau Papa, lihat! Aku kuat sekali,” atau putri 3 tahun Anda berputar sambil bernyanyi, “Saya putri raja yang paling cantik,” dan dia tidak berniat sombong. mereka masih mengembangkan rasa diri. Karena mereka masih sulit menguasai berbagai keahlian, seperti bicara dalam kalimat lengkap dan bertutur, pujian dan dorongan Anda sangat penting. “Anak pada usia tersebut membutuhkan perasaan aman sehingga ketika ia menemui orang lain yang punya kemampuan lebih, kepercayaan dirinya tidak jatuh,” kata Vicki Panaccione, PhD, psikolog anak dan penggagas Better Parenting Institute di Melbourne, Florida. Fakta menyatakan, menumbuhkan percaya diri pada batita bisa menekan sifat arogan di masa mendatang.

Namun pastikan Anda memuji tindakan dia dengan tepat. Fokuskan kepada usaha bukan hasil dan hindari generalisasi (seperti “Anak pintar!”). Lontarkan pujian yang spesifik, seperti, “Kamu pantang menyerah meskipun balok-balok itu terus roboh,” sehingga anak paham betul hal yang bisa ia kerjakan dengan baik.

“Barang-barangku lebih keren dibandingkan milikmu.”

Menginjak usia 4 atau 5 tahun, anak-anak lebih sering berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka mulai memperhatikan bahwa temannya lebih atletis, ada yang tinggal di rumah besar, dan beberapa teman mempunyai banyak mainan. Untuk menekan sifat materialisme yang mulai tumbuh, ajari si balita untuk selalu bersyukur. Salah satu cara untuk menanamkan rasa syukur: Buat kegiatan amal sebagai acara rutin keluarga. Kumpulkan makanan dan berikan kepada orang yang kurang mampu. Anda dan si kecil juga bisa mengunjungi panti jompo atau menulis ucapan “Semoga lekas sembuh” untuk diberikan kepada tetangga yang sakit. Berdoa sebelum makan juga bisa menjauhkan anak dari kesombongan dan menyadarkan anak betapa beruntung dia.

Baca Juga :  Cara Efektif Membantu Anak Merasa Bahagia, Percaya diri, dan Sukses.

Usia Sekolah: “Aku pemain sepak bola paling hebat.”

Begitu memasuki sekolah dasar, anak-anak mulai bisa menilai prestasi dan membandingkannya dengan teman sebaya – dan mereka bisa jatuh ke perilaku suka menyombongkan diri. Empati adalah senjata terbaik untuk melawan dorongan tersebut, karena anak usia ini sudah bisa – dan sudah seharusnya – memperhatikan perasaan orang lain sebelum memamerkan sesuatu atau mengatakan hal yang bisa menyinggung perasaan. Jika Anda mendengar anak Anda sedang menyombongkan diri, ajak dia bicara empat mata, katakan, “Ketika kamu selalu membicarakan diri sendiri, teman-temanmu akan menyangka kamu merasa lebih baik dibandingkan mereka. Besar kemungkinan mereka tidak ingin berteman dengan kamu lagi.”

Jika anak Anda tidak pernah mau kalah dengan saudara kandungnya (“Aku bisa melompat lebih tinggi daripada kamu” atau “Mainanku lebih banyak dibandingkan mainan kamu”), jangan panik: Kompetisi adalah bagian dari keseharian kakak-adik.

Yang Lebih penting orangtua paham dan mengerti tahap perkembangan anak agar tidak terjadi ‘memuji yang berlebihan’ pada anak dan jangan suka membandingkan anak dengan anak tetangga atau lainnya.

 

MARI DISKUSI

Please enter your comment!
Please enter your name here