Withdrawal Therapy Untuk Pecandu

Withdrawal Therapy Untuk Pecandu

Saat ini ada terapi yang mampu menyembuhkan para pecandu narkoba. Terapi tersebut adalah terapi putus zat (withdrawal therapy) yang sekarang ini mulai di lakukan oleh beberapa rumah sakit di Indonesia.

Dengan terapi putus zat, mampu menyembuhkan keinginan pecandu untuk mengonsumsi narkoba “tetapi semua itu tergantung pecandunya, apabila keinginan untuk sembuhnya kuat bisa memberikan hasil yang maksimal,” ujar Fatimah Syarif, AMG, STP, Ahli Nutrisi Sun Hope ketika di temui dalam Talk Show bertajuk “The Real Toxic, Yes It Is Drugs” di Jakarta.

Menurut Fatimah, dalam proses terapi putus zat ini ada beberapa orang terapis diantaranya dokter, psikolog atau dokter kejiwaan, dan ahli agama. “Seorang ahli agama sangat penting, karena bisa memberikan motivasi spiritual yang sangat mendalam, dan agama juga merupakan landasan yang mendasar,” kata Fatimah di sela-sela acara.

Dalam terapi tersebut, seorang pecandu ringan paling tidak membutuhkan waktu hingga 7 bulan untuk bisa sembuh dan kembali ke masyarakat. “tetapi sekali lagi, semua tergantung pemakai,” imbuhnya.

Proses terapi putus zat merupakan proses detoksifikasi. Dalam proses ini penderita oleh pantauan dokter, diberikan naltrexone dan budrennofin yang bersifat antagonis untuk menghambat efek serangan yang ditimbulkan oleh heroin. “proses ini berlangsung sekitar seminggu atau dua minggu,” tambahnya.

Selain pemberian naltrexone dan budrennofin, perawatan atau terapi yang digunakan juga bisa dilakukan sendiri dirumah atau dengan kata lain self detoxification, “disini peran keluarga sangatlah penting, agar pecandu mampu bertahan dalam kondisi yang sulit,” kata Fatimah.

Di Indonesia, bisa dikatakan penggunaan budrenorfin merupakan hal baru dalam mengobati melalui terapi ketergantungan obat meskipun di Perancis, sebagai asal mula obat, sudah diproduksi sejak tahun 1997.

Baca Juga :  Pengobatan Alternatif Disfungsi Ereksi

Obat ini pun memiliki efek samping. Pemakaian naltrexone dalam jangka waktu lebih dari satu tahun, dapat menyebabkan kerusakan hati. Sedangkan buprennofin dapat digunkan hingga dua tahun, karena tidak menimbulkan risiko kerusakan hati pada penggunaan obat ini.

Ada beberapa efek samping yang umum terjadi pada penggunaan obat-obatan ini, seperti susah buang air besar (konstipasi), sakit kepala, mual, lelah, tidak bertenaga, gangguan tidur, dan berkeringat. Pada saat terapi dimulai, akan terjadi gejala putus obat atau sakaw ringan dibandingkan dengan detoksifikasi dengan menggunakan naltrexone.

Gangguan Fungsi Organ

Fatimah Syarif menambahkan dalam seminarnya tersebut, adanya kerusakan organ pada pecandu obat-obatan terlarang sebesar 70 %. “semua tergantung seberat apa pecandu ketergantungan terhadap obat-obatan,” katanya.

Gangguan organ dari ujung kepala hingga ujung kaki tidak lagi dapat dihindari jika pecandu merupakan pengguna aktif narkoba. “Narkoba merusak jalur kenikmatan yang ada pada otak manusia, dan hal itu dirangsang oleh zat psikoaktif yang bisa menimbulkan sakaw,” imbuhnya.

Baca Juga :  Terapi Untuk Bulimia Nervosa

Gangguan fungsi organ yang disebabkan oleh heroin, ganja, dan obat-obatan terlarang lainnya adalah cerebrovaskular (gangguan pada otak), cardiovascular, angina pectoris (nyeri dada) karena bisa jadi terkena risiko serangan jantung, gastrointestinal (masalah pencernaan), serta masalah kesuburan seperti gangguan menstruasi pada wanita dan impotensi pada pria.

“Masalah pernafasan dan nyeri otot juga terjadi pada pecandu narkoba. Narkoba tidak memberikan kesempatan pada organ tubuh kita untuk tetap sehat,” ujar Fatimah.

MARI DISKUSI

Please enter your comment!
Please enter your name here